Langsung ke konten utama

Seruit Lampung

Hai pembaca Nganik Bangik....
Bicara soal makanan yang ngangenin dan ngingetin akan kenangan di kampung halaman tercinta, pastinya ada banyak. Ya kan? Kalau di Lampung, makanan yang buat ikam kangen dan pengen cepat pulang, salah satunya adalah Seruit Lampung.
Kebiasaan berkumpul di Lampung pastinya perlu makanan pemersatu. Kalau berkumpul kan biasanya ada camilan tertentu, nah di Lampung juga begitu, hanya saja, pasti ada satu makanan berat yang dimakan bareng bareng. Dan itu ada di Seruit Lampung.
Gambar Seruit Lampung 
Seruit Lampung
Secara geografis sumber daya yang ada di Lampung itu beragam mulai dari sumber daya alam yang mendatangkan aneka hewan dan sayuran dan sumber daya sumber daya lainnya. Ikam tinggal di Lampung dari lunik (baca:kecil), jadi khatamlah kalau berhubungan dengan sumber daya yang ada.
Dulu, pas masih usia SD kelas 3 dan 4, mencari ikan adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Sungai yang lumayan tenang dan tidak dalam adalah surga tempat tinggal aneka jenis ikan. Salah satu ikan yang sering ikam peroleh adalah ikan gabus, ikan belida, ikan betok, ikan sepat dan ikan kecil-kecil yang ikam enggak tahu namanya. Yang seru lagi, ikam juga kadang dapat udang air tawar, yang kalau digoreng atau dibuat bakwan ikan (ikan kecil dan udang dicampur bumbu dan tepung) udang udang tersebut akan berwarna oranye. Kalau dimakan dengan sambal terasi, rasanya juaraaaa enaknya. Duh, ikam jadi kebayang dan nganik bangik di rumah.
Sebagai orang Lampung asli, keluarga ikam itu dikenal sebagai pecinta ikan. Karena sebenarnya orang Lampung salah satu makanan utamanya memang ikan sih. Jadi dibandingkan makan daging ayam atau daging sapi, kebanyakan orang Lampung akan memilih ikan. Ya, persis kayak keluarga ikam.
Keluarga ikam berada di lingkungan yang lumayan beragam. Sebagai suku asli, ikam dan keluarga berada dalam lingkungan yang kebanyakan masyarakatnya adalah orang Jawa. Tetangga ikam yang samping kanan dan kiri adalah orang Jawa, depan juga. Jadi sedari kecil ada tiga bahasa yang ikam pelajari yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan tentu saja bahasa Lampung. Karena interaksi yang sering dengan orang Jawa ikam lebih jago bahasa Jawa dibanding bahasa Lampung. Kalau bahasa Jawa ikam aktif, kalau bahasa Lampung ikam pasif. Soalnya di rumah, emak sama bapak ikam berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sesekali saja menggunakan bahasa Lampung. Di desa ikam, penduduk asli Lampung hanya beberapa keluarga saja, sisanya adalah orang Jawa, Sunda dan Banten.
Nah, banyaknya tetangga yang bersuku Jawa membuat kita memahami kultur dan kebiasaan satu sama lain dan saling menghargai tentunya. Salah satu yang lekat dalam pikiran mereka adalah orang Lampung adalah pemakan ikan, tiada hari tanpa ikan. Jadi kalau ada tetangga yang pergi mencari ikan lantas menjualnya. Keluarga yang bakal dituju duluan adalah keluarga ikam. Ikan gabus dan ikan lele ditusuk dengan bambu membuat rencengan memanjang. Atau ikan-ikan kecil hasil tangkapan saat musim hujan akan dibungkus dan dijual dengan daun jati. Menarik sekali waktu itu.
Pernah tetangga yang baru saja pulang dari sungai atau rawa membawa serenceng ikan. Ada ikan gabus, ikan lele dan ikan belut. Emak ikam pun membelinya lalu mulai membersihkan ikan di belakang rumah. Kami yang sedang asik nonton televisi, tiba tiba kaget luar biasa mendengar ucapan emak dari belakang rumah.
“Ulai....,” kata emak. Ikam kemudian ke belakang dan melihat emak melempar belut belut di rencengan. Menurut emak ikam, belut adalah ular. Ha... ha.. ha...
Nah, ikan gabus dan ikan-ikan lainnya yang sudah dibersihkan akan digoreng atau bakar ini cikal bakal Seruit Lampung.

Seruit Lampung

Setiap hari di rumah menu yang pasti ada adalah sambal, lalap dan ikan (dibakar maupun digoreng). Ketiga menu ini kalau dicampur jadilah Seruit Lampung. Sesederhana itu sih sebenarnya.
Cuma biasanya kalau mau nyeruit, ada beberapa yang perlu disiapkan. Lalapan yang biasanya enggak terlalu banyak, ada beberapa lalap spesial yang disiapkan seperti terong yang dibakar. Sambal juga disiapkan lebih spesial misalnya penggunaan mangga kweni di dalam sambal membuat cita rasa sambalnya jadi juara enaknya. Kalau tidak pakai mangga, sambal terasi juga enggak kalah enaknya. Kalau nyeruit versi ikam biasanya pakai ikan gabus, ikan baung atau ikan mas. Seruit Lampung makin juara enaknya kalau ditambah tempoyak durian, kalau tempoyaknya enggak ada biasanya daging durian bisa jadi pilihan. Tapi ikam kurang suka durian sih...
Nah, sambal yang sudah dibuat ditaruh di wadah yang cukup besar. Kemudian daging ikan bakar juga ditaruh di piring yang ada sambalnya. Lalu lalap seperti timun (bagian dalam yang ada bijinya), terung bakar juga ditaruh dalam piring yang sama (buang kulit yang gosong). Kemudian sambal, ikan dan lalap dicampur jadi satu menggunakan tangan. Kalau yang enggak biasa melihat pencampuran ini pasti bakal merasa geli gimana gitu. Kalau menurut ikam justru di situ letak kenikmatan Seruit Lampung.
Setelah semuanya bercampur, baru deh makan dengan nasi hangat. Nganik bangik....
Lalap yang biasanya jadi pelengkap itu banyak banget ada daun singkong yang direbus, timun mentah, daun kemangi, daun jambu monyet/mede, tauge, rotan muda, daun mangga muda (cobain deh), singkong mentah, pisang tua yang belum matang dan jenis lalap lainnya. Beberapa lalap terlihat anti mainstream, tapi itu realita sih, dan ikam mengalami dan menikmati itu semua.
Seruit Lampung biasanya dibuat dalam upacara-upacara adat, di acara pernikahan atau pertemuan-pertemuan. Biasanya nyeruit jadi moment berharga untuk saudara-saudara yang sedang berkumpul dan bercengkerama.
Dulu waktu SD, ikam suka diledek soal Seruit Lampung ini. Karena proses pencampuran sambal, ikan dan lalap yang menggunakan tangan, lantas dimakan bersama-sama dengan mengambil seruit ke piring masing-masing. Terkesan jorok dan tidak higienis. Jadilah bahan ledekan.
“Seruit Lampung, jorok dan aneh.”
Ikam pikir ledekan (baca bully) soal Seruit Lampung selesai saat di SD, tapi di SMA guru ikam yang berasal dari Jakarta juga ngomong begitu. Seruit Lampung, joroklah anehlah. Sambil meragakan tangan ngaduk-ngaduk sambal dan ikan.
Ikam pikir lagi ledekan tentang Seruit Lampung bakal beres juga di zaman SMA, ternyata saat merantau dan ketemu sama rekan kerja, ledekan juga sama. Ikam sih males untuk menjelaskan karena pengolok pengolok itu pasti enggak tahu bagaimana bangiknya Seruit Lampung.

Filosopi Seruit Lampung

Nenek moyang kita pasti enggak sembarangan membuat makanan khas tertentu yang dulunya adalah makanan keseharian. Lampung yang kaya akan sumber daya alam seperti sungai, rawa dan laut menghadirkan aneka jenis ikan. Tanah yang subur menghadirkan sayuran yang dapat dijadikan lalapan. Kalau di restoran-restoran lalap mainstrem yang dihadirkan seperti mentimun, kol dan kemangi. Di Lampung anti mainstrem, lalapan seperti pucuk daun jambu mede, pucuk mangga, pisang tua yang belum matang, singkong mentah jadi pelengkap makan. Jadi pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan pokok makanan setempat memang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.
Seruit Lampung yang diracik satu orang dengan tangannya langsung menandakan adanya ikatan dan rasa saling percaya. Persetan sih dengan olokan orang tentang jorok dan tidak higienis, karena ikatan dan saling percaya satu sama lain adalah kunci sehingga nyeruit bersama-sama nikmatnya luar biasa. Nganik bangik.
Makan Seruit Lampung dengan duduk melingkar sambil mengambil sedikit demi sedikit seruit yang ada di piring menjadi alat pemersatu semua kalangan. Bayangkan saat berkeliling tangan masing-masing mengambil seruit dalam satu piring, tidak ada perasaan apa-apa yang terbersit selain kebersamaan dan kehangatan.
Di zaman milenial seperti sekarang ini, ngumpul ngumpul itu sudah menjadi gaya hidup. Di Lampung ngumpul ngumpul bakalan seru kalau sambil nyeruit. Alhamdulillah, di kalangan muda mudi nyeruit juga kerap dilakukan karena seru dan membahagiakan.
Jadi dalam satu makanan bernama seruit Lampung tersimpan banyak filosopi yang enggak kalah dengan makanan khas dari daerah lain. Kalau akhirnya ada orang-orang tertentu yang tidak suka atau meremehkan makanan khas daerah tertentu, ikam pikir sih itu urusannya, urusan sudut pandangnya terhadap makanan tertentu.
Itu dulu, cerita ikam tentang Seruit Lampung di nganik bangik. Nanti akan ada cerita-cerita lain tentang seruit Lampung lagi atau makanan-makanan khas lainnya. Semoga tulisan ini membantu ya. Terima kasih...

Salam hangat

Nganik bangik :)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Nganik Bangik?

Apa itu Nganik Bangik?Nganik bangik itu artinya makan enak yang diambil dari  bahasa Lampung. Berhubung ikam (saya) adalah putra daerah Lampung jadi ikam pengen banget ngangkat kuliner khas Lampung, tempat makan yang enak dan seru di Lampung serta tempat wisata yang asik. Walaupun dikhususkan untuk bahas perintilan tentang Lampung, tapi enggak menutup kemungkinan blog ini juga bahas makanan khas daerah lain, tempat wisata yang khas dari daerah tertentu dan hal-hal yang enak lainnya.
Ikam sih emang asli Lampung, tapi ikam udah lama gitu merantau ke tempat lain. Tapi ikam tetep rutin balik kampung, setidaknya setahun sekali ikam balik, biasanya pas lebaran. Tapi kalau ada moment tertentu atau sodara lagi hajatan dan kebetulan waktu untuk pulang kampung lumayan longgar, ikam pasti nyempetin untuk pulang. Kenapa Nganik Bangik?Ikam kan doyan banget makan jadi kayaknya sayang aja kalau hobi ikam ini nggak ikam share ke kalian. Setidaknya ikam bisa cerita tentang seluk beluk makanan khas terte…

Kopi Lampung